solusimakmur.com

Metode Engagement yang Tepat untuk Setiap Jenis Stakeholders dalam Industri Pertambangan

Dalam artikel terdahulu telah digambarkan beberapa jenis/type stakeholders perusahaan pertambangan. Setiap type stakeholders memerlukan pendekatan (approach) – sering disebut stakeholder engagement method – yang berbeda; tergantung pada karakteristik dan kepentingan stakeholders tersebut.  Stakeholder engagement method adalah proses komunikasi dan interaksi yang dilakukan perusahaan untuk membangun hubungan yang konstruktif dengan pemangku kepentingan. Metode engagement yang digunakan harus disesuaikan dengan karakteristik dan kepentingan setiap stakeholder agar efektif. Beberapa contoh metode engagement yang dapat digunakan terhadap beberapa jenis/type stakeholders antara lain sebagai berikut (dirangkum dari beberapa sumber): 1. Metode Enggagement Berdasarkan Jenis Stakeholders Jenis Stakeholders Metode Engagement Pemerintah & Regulator (Kementerian ESDM, KLHK, Pemda, DPR, dll.),   Regulatory Meetings & Dialogues : Pertemuan rutin dengan regulator untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan. Advokasi & Public Policy Engagement: Memberikan masukan terkait kebijakan industri melalui forum industri, asosiasi, atau konsultasi publik. Laporan Keberlanjutan & Kepatuhan: Menyediakan laporan berkala terkait kepatuhan dan kontribusi perusahaan terhadap perekonomian nasional.   Masyarakat Lokal & Komunitas,   Community Meetings & Public Hearings : Forum tatap muka untuk menyampaikan informasi terkait operasional tambang dan menampung aspirasi masyarakat. Corporate Social Responsibility (CSR) Programs: Program pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Community Development Partnerships: Kemitraan dengan masyarakat untuk proyek keberlanjutan, seperti pengelolaan lingkungan dan program pelatihan tenaga kerja lokal.   Pemegang Saham & Investor Investor Relations & Annual General Meeting (AGM): Forum bagi pemegang saham untuk menerima laporan keuangan dan perkembangan bisnis. Financial & ESG (Environmental, Social, Governance) Reporting: Laporan berkala yang transparan mengenai kinerja finansial dan aspek keberlanjutan perusahaan. Investor Roadshows & One-on-One Meetings: Interaksi langsung dengan investor untuk menjelaskan strategi bisnis dan mitigasi risiko. Karyawan & Serikat Pekerja, Internal Communication & Town Hall Meetings : Pertemuan reguler dengan manajemen untuk memberikan pembaruan dan mendiskusikan isu-isu ketenagakerjaan. Workforce Training & Capacity Building: Program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi karyawan. Grievance Mechanism & Industrial Relations Engagement: Saluran pengaduan dan negosiasi dengan serikat pekerja untuk mengelola hubungan ketenagakerjaan. LSM & Aktivis Lingkungan, Stakeholder Dialogues & Roundtable Discussions : Pertemuan terbuka dengan LSM untuk membahas dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan pertambangan. Transparency & Third-Party Audits: Publikasi hasil audit lingkungan dan sosial yang dilakukan pihak independen. Collaborative Programs: Kemitraan dengan LSM untuk proyek konservasi atau pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Media & Opini Publik, Press Conferences & Media Briefings : Sesi informasi bagi media untuk menyampaikan kebijakan dan perkembangan perusahaan. Proactive Media Engagement & Digital Communication: Menjalin hubungan baik dengan jurnalis dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang transparan. Crisis Communication & Rapid Response: Strategi komunikasi untuk menangani isu negatif atau krisis reputasi di media. Pelanggan & Mitra Bisnis (Buyer, Supplier, Vendor, Subkontraktor), Business Partnership Meetings : Forum diskusi dengan mitra bisnis untuk meningkatkan kerja sama. Supplier & Contractor Management Programs: Pengembangan standar operasional dan kepatuhan bagi vendor dan kontraktor. Supply Chain Sustainability Initiatives: Menerapkan standar keberlanjutan dalam rantai pasok untuk memastikan praktik bisnis yang bertanggung jawab. 2. Pemilihan Metode Enggagement Berdasarkan Strategi Komunikasi Metode engagement dapat dibagi menjadi beberapa level, tergantung pada tingkat keterlibatan dan kompleksitas interaksi yang dibutuhkan: a.  Informasi (One-Way Communication) – Memberikan Informasi Metode ini digunakan untuk stakeholder yang membutuhkan transparansi dan pembaruan berkala, tetapi tidak memerlukan interaksi langsung. Metode engagement dengan cara One-Way Communication ini dapat menggunakan media komunikasi antara lain: b. Konsultasi (Two-Way Communication) – Menerima Masukan Melibatkan komunikasi dua arah untuk mendapatkan opini, umpan balik, atau tanggapan dari stakeholder. Contoh metode: c. Kolaborasi (Partnership) – Bekerja Sama dengan Stakeholders Metode ini digunakan untuk stakeholder yang memiliki pengaruh besar atau dampak langsung terhadap operasional perusahaan. Contoh metode: d. Negosiasi & Penyelesaian Konflik Digunakan untuk stakeholder yang memiliki kepentingan yang bertentangan dengan perusahaan, seperti masyarakat terdampak, serikat pekerja, atau aktivis lingkungan. Contoh metode: 3. Implementasi Strategi Stakeholder Enggagement yang Efektif a.  Stakeholder Mapping b.  Menyesuaikan Metode Engagement Tidak semua stakeholder membutuhkan pendekatan yang sama. Misalnya: c. Membangun Transparansi & Kepercayaan Menyediakan informasi yang jujur dan dapat diakses oleh stakeholder untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik. d. Menggunakan Teknologi Digital Pemanfaatan media sosial, website, dan aplikasi komunikasi untuk menjangkau stakeholder dengan lebih luas dan cepat. e. Evaluasi dan Perbaikan Berkelanjutan Melakukan monitoring efektivitas engagement dan menyesuaikan strategi berdasarkan umpan balik dari stakeholder. Metode Engagement yang Sesuai untuk Setiap Tipe Stakeholders Berdasarkan Hubungan dengan Perusahaan Stakeholders dalam perusahaan pertambangan dapat dikategorikan berdasarkan sikap dan hubungan mereka terhadap perusahaan, yaitu: Untuk memastikan strategi engagement yang efektif, perusahaan harus menyesuaikan pendekatan terhadap masing-masing tipe stakeholder. 1. Engagement untuk Supportive Stakeholders Supportive Stakeholders adalah stakeholders yang mendukung operasional perusahaan, seperti pemegang saham, pemerintah yang mendapatkan pajak, komunitas yang diuntungkan dari program CSR, karyawan yang puas, dan mitra bisnis yang memiliki kepentingan positif. Tujuan utama: Mempertahankan dukungan mereka, meningkatkan keterlibatan, dan memperkuat kemitraan. Contoh Implementasi: 2. Engagement untuk Neutral Stakeholders Neutral Stakeholders adalah stakeholders yang tidak memiliki sikap jelas terhadap perusahaan, seperti media yang netral, akademisi, masyarakat luas yang tidak terdampak langsung, dan beberapa regulator yang tidak memiliki hubungan erat dengan industri tambang. Tujuan utama: Mengubah mereka menjadi stakeholder yang lebih positif atau setidaknya mempertahankan netralitas mereka. Contoh Implementasi: 3. Engagement untuk Oppositional Stakeholders Oppositional Stakeholders adalah stakeholders yang menentang perusahaan, seperti aktivis lingkungan, masyarakat yang terdampak negatif, serikat pekerja yang tidak puas, atau media yang sering mengkritik industri tambang. Tujuan utama: Mengurangi resistensi, membangun dialog yang lebih konstruktif, atau jika memungkinkan, mengubah mereka menjadi netral atau bahkan mendukung perusahaan. Contoh Implementasi: Kesimpulan & Best Practices dalam Stakeholder Engagement Type Stakeholders Tujuan Engagement Metode yang Digunakan Supportive Stakeholders Memperkuat dukungan dan memperdalam keterlibatan mereka. Informasi rutin, kemitraan jangka panjang, insentif, dan pengakuan   Neutral Stakeholders Meningkatkan pemahaman mereka dan mencegah mereka menjadi oposisi.   Edukasi publik, media engagement, transparansi data, kolaborasi akademik. Oppositional Stakeholders. Mengurangi resistensi, mencari solusi bersama, atau meredam konflik.   Dialog terbuka, mediasi, transparansi, kompensasi, kolaborasi strategis.  

Konsep dan Proses Stakeholder Relations Management

a. Konsep Stakeholder Relations Management (SRM) Pada artikel terdahulu disebutkan bahwa salah satu fungsi External Relations di perusahaan pertambangan adalah mengelola hubungan pemangku kepentingan (stakeholder relations management). Pemangku kepentingan atau stakeholders adalah pihak-pihak yang memberi pengaruh kepada perusahaan atau dipengaruhi oleh adanya kegiatan operasional perusahaan. Pengelolaan Hubungan Pemangku Kepentingan (Stakeholder Relations Management) ini didasarkan pada beberapa teori utama yang menjelaskan bagaimana organisasi atau perusahaan pertambangan berinteraksi dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap bisnis mereka. Beberapa konsep yang relevan yang bisa dijadikan referensi, antara lain: 1. Teori Pemangku Kepentingan (Stakeholder Theory) Dikemukakan oleh Edward Freeman (1984), teori ini menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham (shareholders), tetapi juga kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), termasuk pemerintah, masyarakat, karyawan, dan pelanggan. Konsep ini menekankan bahwa keberlanjutan bisnis sangat dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan mengelola hubungan dengan berbagai stakeholder. 2. Teori Legitimasi (Legitimacy Theory) Teori legitimasi (legitimacy theory) adalah teori yang menjelaskan hubungan antara perusahaan dan masyarakat. Teori legitimasi pertama kali dicetuskan oleh Dowling dan Pfeffer pada tahun 1975. Teori ini menyatakan bahwa perusahaan harus memperoleh “legitimasi sosial” dari masyarakat dan pemerintah agar dapat beroperasi dengan lancar. Dalam konteks pertambangan, perusahaan harus membangun hubungan baik dengan masyarakat lokal, memenuhi standar lingkungan, dan menunjukkan bahwa keberadaannya membawa manfaat bagi stakeholders. Prinsip Teori Legitimasi yaitu:  Perusahaan harus beroperasi sesuai dengan norma-norma sosial masyarakat Perusahaan harus memperhatikan masalah lingkungan dan sosial Perusahaan harus mengungkapkan laporan keberlanjutan Perusahaan harus mempertimbangkan konsekuensi lingkungan dan sosial dari aktivitas mereka Sedangkan tujuan Teori Legitimasi adalah;  Mendukung keberlangsungan hidup suatu perusahaan. Membangun kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan, Memastikan perusahaan beroperasi dengan bertanggung jawab, Memastikan perusahaan tidak melanggar norma-norma masyarakat.  Teori Legitimasi merupakan salah satu teori yang mendasari perkembangan CSR (Corporate Social Responsibility), yaitu konsep Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Teori legitimasi memprediksi perilaku perusahaan dalam mengelola dan memelihara perspektif pemangku kepentingan utama.  3. Teori Kontrak Sosial (Social Contract Theory) Teori ini berpendapat bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk berkontribusi kepada masyarakat yang terkena dampak operasionalnya. Oleh karena itu, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menjadi bagian dari strategi bisnis dalam membangun hubungan positif dengan stakeholder. Teori kontrak sosial adalah teori yang menjelaskan hubungan antara warga negara dan pemerintah, serta kewajiban mereka. Teori ini juga menjelaskan hubungan antara aturan dan hukum, dan mengapa masyarakat membutuhkannya.  Aspek-aspek teori kontrak sosial: Masyarakat ada karena kesepakatan implisit yang memberikan aturan perilaku moral dan politik  Kewajiban moral dan politik seseorang bergantung pada kesepakatan untuk membentuk masyarakat  Pemerintah ada untuk melindungi warga negaranya, dan tidak memiliki wewenang kecuali yang diberikan oleh rakyat  Jika pemerintah tidak melindungi warga negaranya, maka pemerintah tersebut telah gagal  Tokoh-tokoh yang mengemukakan teori kontrak sosial: Thomas Hobbes (1588-1689), Jean-Jacques Rousseau. 4. Teori Dependensi Sumber Daya (Resource Dependence Theory) Teori RDT diperkenalkan oleh Jeffrey Pfeffer dan Gerald Salancik pada tahun 1978 melalui buku The External Control of Organizations: A Resource Dependence Perspective. Teori ini menjelaskan bahwa perusahaan sangat bergantung pada sumber daya yang dikendalikan oleh stakeholders eksternal, seperti izin operasional dari pemerintah, tenaga kerja dari masyarakat lokal, atau dukungan investor. Oleh karena itu, perusahaan harus mengelola hubungan ini dengan baik untuk memastikan kesinambungan sumber daya yang dibutuhkan. Teori ketergantungan sumber daya (RDT) adalah teori yang menjelaskan hubungan antara organisasi dan sumber daya eksternal yang dibutuhkannya. Teori ini juga menekankan pentingnya kekuasaan dalam organisasi.  Aspek-aspek RDT adalah: Organisasi bergantung pada sumber daya eksternal untuk beroperasi Organisasi berkolaborasi dengan organisasi lain untuk mendapatkan sumber daya Organisasi berusaha mengurangi kekuasaan pihak lain atas mereka Organisasi berusaha meningkatkan kekuasaan mereka sendiri atas pihak lain Sumber daya yang vital dapat mengurangi ketidakpastian dalam hubungan organisasi Sumber daya yang vital dapat meningkatkan power perusahaan Penerapan RDT RDT dapat diterapkan dalam berbagai aspek strategi organisasi, seperti: struktur divisi organisasi, Perekrutan anggota dewan dan karyawan, Strategi produksi, Struktur kontrak, Hubungan organisasi eksternal.  B. TIPE/JENIS STAKEHODERS DALAM INDUSTRI PERTAMBANGAN Selain berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya, stakeholders dalam industri pertambangan dapat dikategorikan berdasarkan beberapa aspek lain: 1. Berdasarkan Hubungan dengan Perusahaan Direct Stakeholders → Memiliki keterlibatan langsung dengan perusahaan, seperti karyawan, pemegang saham, dan pemerintah. Indirect Stakeholders → Tidak terlibat langsung tetapi dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan, seperti masyarakat luas dan media. 2. Berdasarkan Kepentingan terhadap Operasional Tambang Economic Stakeholders → Pihak yang memiliki kepentingan finansial terhadap perusahaan, seperti investor, kreditur, pelanggan, dan supplier. Social & Environmental Stakeholders → Pihak yang terpengaruh oleh dampak sosial dan lingkungan dari operasional tambang, seperti masyarakat lokal dan LSM lingkungan. Regulatory Stakeholders → Pihak yang berwenang mengatur dan mengawasi industri pertambangan, seperti Kementerian ESDM, KLHK, dan pemerintah daerah. 3. Berdasarkan Sikap terhadap Perusahaan Supportive Stakeholders → Mendukung operasional perusahaan, misalnya pemerintah yang mendapatkan pajak dan masyarakat yang menerima manfaat ekonomi. Neutral Stakeholders → Tidak secara langsung mendukung atau menentang, tetapi dapat berubah tergantung situasi, seperti media atau akademisi. Oppositional Stakeholders → Secara aktif menentang operasional perusahaan, seperti LSM lingkungan yang menentang ekspansi tambang. c. PROSES PENGELOLAAN STAKEHOLDERS dalam INDUSTRI PERTAMBANGAN Stakeholder Management adalah proses berkelanjutan yang melibatkan identifikasi, analisis, komunikasi, dan strategi hubungan dengan stakeholder. Berikut adalah tahapan utama dalam pengelolaannya: 1. Identifikasi Stakeholders (Stakeholder Identification); Menentukan siapa saja stakeholder yang terlibat atau terdampak oleh operasional perusahaan. Menggunakan Stakeholder Mapping untuk mengelompokkan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya. 2. Analisis Stakeholders (Stakeholder Analysis); Menentukan ekspektasi, kebutuhan, dan kekhawatiran stakeholders terhadap operasional tambang. Menganalisis potensi risiko dan peluang dalam hubungan dengan stakeholder. Menggunakan Power-Interest Grid untuk memprioritaskan stakeholder berdasarkan kekuatan dan kepentingannya. 3. Perencanaan Strategi Hubungan dengan Stakeholders (Stakeholder Engagement Plan); Mengembangkan strategi komunikasi dan keterlibatan berdasarkan karakteristik stakeholders. Menentukan metode komunikasi yang sesuai (misalnya pertemuan langsung, media sosial, laporan tahunan, dialog terbuka, konsultasi publik). Menyiapkan strategi mitigasi risiko untuk stakeholder yang berpotensi menimbulkan konflik. 4. Implementasi dan Keterlibatan dengan Stakeholders (Stakeholder Engagement & Communication); Membangun komunikasi dua arah dengan stakeholders melalui pertemuan rutin, forum konsultasi, dan publikasi informasi terbuka. Melakukan negosiasi dengan stakeholder yang memiliki kepentingan bertentangan (seperti LSM lingkungan atau masyarakat terdampak). Membangun program tanggung jawab sosial (CSR) yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan regulasi pemerintah. 5. Monitoring dan Evaluasi (Stakeholder Relationship Monitoring & Evaluation); Melakukan survei atau wawancara dengan stakeholder untuk mengetahui apakah hubungan berjalan baik atau ada masalah yang perlu diatasi.

Fungsi dan Tugas External Relations di Perusahaan Pertambangan

Pendahuluan Hampir semua perusahaan pertambangan mempunyai bagian External Relations. Bagian ini mempunyai peran yang strategis yaitu bertanggung jawab atas hubungan eksternal dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders), termasuk pemerintah, masyarakat, media, dan organisasi non-pemerintah. Peran External Relation ini sangat crucial demi menjaga kelancaran operasional, keberlanjutan bisnis dan reputasi perusahaan. Hal ini dikarenakan operasional perusahaan sering kali beririsan dengan kepentingan publik, regulasi yang ketat, serta isu-isu sosial dan lingkungan. Perusahaan pertambangan yang mengabaikan fungsi External Relation akan sering mengalami gangguan, hambatan dan tantangan antara lain; unjuk rasa masyarakat menolak kegiatan penambangan, penyetopan jalan (road block), demonstrasi buruh, mogok kerja, dan lain sebagainya. Demi mensukseskan perannya tersebut, bagian External Relation mempunyai lima tugas dan fungsi utama antara lain: Tugas dan Fungsi External Relations 1. Stakeholder Management Sebagaimana diketahui bahwa stakeholders adalah pihak-pihak yang memberi pengaruh kepada atau dipengaruhi oleh adanya kegiatan operasional perusahaan. Tugas utama External Relations di bidang stakeholder management ini mencakup: Identifikasi dan pemetaan stakeholder (stakeholders mapping) untuk memahami kepentingan dan impact mereka terhadap operasi perusahaan. Membangun komunikasi yang efektif dengan pemerintah, komunitas lokal, media, dan LSM untuk menjaga transparansi dan kepercayaan. Mengelola komunikasi dengan regulator untuk memastikan perusahaan beroperasi sesuai peraturan yang berlaku. 2. Community Relation & CSR (Corporate Social Responsibility Perusahaan pertambangan memiliki pengaruh sosial yang signifikan terhadap masyarakat sekitar. Pada peran ini, External Relations bertugas; Menyusun program (CSR) tanggung jawab sosial perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, pengembangan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan, serta pelestarian dan pengembangan adat-budaya masyarakat (kearifan lokal). Menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat lokal untuk mencegah konflik dan meningkatkan dukungan terhadap operasional tambang. Menyusun strategi komunikasi yang transparan mengenai dampak dan manfaat keberadaan tambang bagi komunitas. 3. Government Relations & Compliance Perusahaan pertambangan tergolong industri yang mempunyai risiko tinggi (high risk). Oleh karena itu perusahaan harus peduli dengan Tata Kelola Pertambangan yang benar (Good Mining Practises) dan aspek kepatuhan (compliances) terhadap semua peraturan teknik pertambangan. Keberlanjutan operasi tambang sangat dipengaruhi oleh regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Fungsi External Relations dalam hal ini meliputi: Memastikan perusahaan mematuhi semua regulasi dan perizinan yang berlaku. Berinteraksi dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk mengamankan dukungan kebijakan yang kondusif bagi industri pertambangan. Melakukan advokasi kebijakan untuk memastikan regulasi yang diterapkan tidak menghambat operasional perusahaan. 4. Media & Public Relations Dalam era digital dan keterbukaan informasi seperti dewasa ini, opini publik sangat berpengaruh terhadap citra perusahaan. External Relations bertugas untuk: Membangun strategi komunikasi eksternal yang proaktif melalui media massa dan media sosial. Mengelola hubungan dengan jurnalis dan media untuk memastikan pemberitaan yang seimbang mengenai perusahaan. Mengelola persepsi publik dengan menyampaikan informasi yang transparan mengenai operasional tambang dan dampaknya. 5. Reputation & Crisis Management Industri pertambangan sering menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi merusak reputasi perusahaan. External Relations memiliki peran penting dalam: Mencegah dan mengelola krisis komunikasi dengan merespons cepat terhadap isu negatif yang muncul. Melakukan pemetaan risiko reputasi dan menyusun strategi mitigasi. Mengembangkan strategi komunikasi krisis yang efektif untuk menjaga kepercayaan stakeholder. Tantangan dan Dinamika External Relations Peran External Relations menjadi semakin kompleks karena perubahan dalam aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Beberapa tantangan utama yang harus dihadapi meliputi: Regulasi yang kompleks dan sering berubah, yang menuntut perusahaan untuk selalu memperbarui strategi kepatuhan. Ekspektasi tinggi dari masyarakat dan pemerintah, yang mengharuskan perusahaan untuk menunjukkan dampak positif operasionalnya. Tekanan dari aktivis lingkungan dan LSM, yang menuntut transparansi dan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Pengaruh media sosial, yang mempercepat penyebaran informasi, baik yang positif maupun negatif. Tantangan-tantangan tersebut bagaimanapun harus dikelola dengan baik bahkan harus dijadikan sebagai peluang (opportunity) agar perusahaan senantiasa exist, berkembang dan berkelanjutan serta memberikan manfaat, bukan saja kepada shareholders tetapi juga bagi masyarakat dan negara. Ingin tahu lebih lanjut tentang strategi External Relations di industri pertambangan? 💬 Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut!